SIFAT ILAHI

Oleh Kuswaidi Syafiie

Tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang tidak menerima salinan wujud dari Allah Ta’ala, dari mulai yang paling kecil sampai pada yang terbesar, dari mulai yang paling terkenal sampai yang sama sekali tidak diketahui oleh umat manusia, dari mulai yang paling rupawan sampai yang paling buruk, dari mulai yang paling kuat dan gagah sampai yang paling ringkih dan ceking, dan lain sebagainya.

Seluruh wujud mereka merupakan pengejawantahan dari wujud hadiratNya. Pasti. Karena jelas bahwa tidak ada sumber wujud yang lain lagi. Maka, konsekuensinya adalah bahwa seluruh wujud makhluk itu pastilah diliputi oleh asal-usul mereka itu sendiri. Dan dari situ pula sah adanya sebutan “Tuhan seluruh alam atau رب العالمين” yang disandang oleh hadiratNya.

Seluruh makhluk murni berposisi sebagai obyek di hadapan kemahaan Allah Ta’ala. Tidak ada satu pun di antara mereka yang betul-betul merupakan subyek. Dengan demikian, mereka secara substansial hanya bisa menerima pengaruh dan sama sekali tidak bisa sebaliknya. Dan di antara seluruh makhluk yang ada, manusialah yang paling memiliki kemungkinan untuk mendapatkan pengaruh keilahian sebanyak-banyaknya.

Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah mengikis segala bentuk egoisme yang bercokol dan eksis di dalam diri. Pada saat yang bersamaan juga bisa berarti ikhtiar untuk menampung berbagai macam pengaruh positif yang tercurah dari hadiratNya. Semakin terkikis dan kalis aneka ragam kekelaman dan dosa-dosa dari dalam diri, maka akan semakin luas dan kukuh pula porsi kemungkinan untuk menampung pengaruh-pengaruh keilahian tersebut.

Beribadah, baik secara mahdhah maupun ghairu mahdhah, baik secara vertikal maupun dalam konteks horizontal, tak lain merupakan proses “pengilahian” diri dengan cara menekuk jarak yang membentang antara diri kita dengan Allah Ta’ala. Semakin dekat diri kita dengan hadiratNya, semakin banyak pula sifat-sifat yang digelontorkanNya kepada kita.

Peristiwa tentang mukjizat yang dialami para nabi atau karamah yang dialami para wali yang merupakan kejadian luar biasa dan adikodrati mesti kita pandang dan pahami sebagai petunjuk yang konkret bahwa Allah Ta’ala itu telah sudi memerankan mereka secara langsung dalam kehidupan nyata agar menjadi sarana hidayah bagi orang-orang yang menyaksikannya.

Akan tetapi jelas bahwa sifat-sifat keilahian yang luar biasa dan adikodrati itu jangan pernah menjadi tujuan untuk kita miliki. Menyematkan tujuan itu di dalam ibadah-ibadah kita hanya akan merusak nilai-nilai penghambaan kita dan akan membuat serong langkah-langkah perjalanan rohani kita. Itulah sebabnya, ketika ada seseorang yang datang kepada Syaikh Abu Yazid al-Basthami dan menyatakan bahwa dia telah berpuasa selama tiga puluh tahun namun dia belum merasakan adanya bukti-bukti kewalian, Sang Syaikh itu kemudian menukas, “Kau tak akan pernah sampai pada kedudukan yang terpuji itu karena tujuanmu dengan berpuasa sudah melenceng.”

Artinya adalah bahwa menginginkan adanya sifat-sifat keilahian agar terealisasi ke dalam diri tak lain merupakan hijab yang tebal yang membuat siapa pun akan terpelanting jauh dari hadapan hadiratNya. Ibadah adalah membakar egoisme yang sempit dan sumpek. Sementara menginginkan sifat-sifat keilahian agar bersemayam di dalam diri adalah pengukuhan berhala egoisme yang kelam tersebut. Wallahu a’lamu bish-shawab.

*)Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

CINTA

Oleh Kuswaidi Syafiie

Maqam al-Mahabbah atau kedudukan cinta ilahiat secara spiritual merupakan posisi kerohanian tertinggi yang menjadi tumpuan hasrat suci bagi setiap salik yang senantiasa berproses dalam melakukan pendakian spiritual. Seluruh kedudukan rohani yang masih berjibaku di bawahnya, pastilah terobsesi agar suatu saat nanti –dengan pertolongan dan karunia dari Allah Ta’ala– sampai juga pada kedudukan cinta ilahiat itu. Demikian pula dengan berbagai macam tingkatan dan pengalaman spiritual, semua itu sesungguhnya mengalir dari kedudukan telaga cinta ilahiat.

Kenapa cinta ilahiat itu sedemikian sublim sebagai sumber segala jenjang rohani? Jawabannya tak lain bahwa kedudukan cinta ilahiat itu merupakan asal-usul dan tuan dari segala wujud, merupakan awal mula dan suplai potensi bagi seluruh alam raya. Dan puncak kedudukan cinta ilahiat itu tidak lain adalah Nabi Muhammad Saw yang telah diangkat oleh hadiratNya sebagai kekasih yang paling istimewa di antara kekasih-kekasih yang lain.

Nabi Muhammad Saw mendapatkan anugerah gelar al-Habib, sementara Nabi Ibrahim mendapatkan predikat al-Khalil. Keduanya sama-sama berarti kekasih. Tapi, sama persiskah kedudukan di antara keduanya? Tentu saja tidak. Gelar al-Habib itu menunjuk kepada kedudukan rohani yang lebih tinggi dan lebih istimewa dibandingkan dengan gelar al-Khalil. Gelar al-Habib mengacu kepada kekasih yang dicari, sedang gelar al-Khalil konotasinya tertuju kepada kekasih yang mencari. Gelar al-Habib disematkan pada kekasih yang dilamar, sedang gelar al-Khalil dinisbatkan pada kekasih yang melamar.

Ada jarak spiritual yang membentang di antara keduanya walaupun sama-sama bermakna kekasih. Akan tetapi bagaimana pun, Nabi Ibrahim adalah orang yang paling mirip dengan Nabi Muhammad Saw, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Itulah sebabnya kenapa di dalam shalat itu diwajibkan untuk membaca shalawat Ibrahimiyyah yang dinisbatkan kepada Nabi Ibrahim, tidak kepada nabi-nabi yang lain.

Penyandang gelar al-Habib tersebut jelas merupakan puncak dari kedudukan rohani yang menjadi sumber bagi seluruh kebaikan yang ada di dalam kehidupan ini. Karena itu, dapat kita maklumi bersama bahwa tanpa menyebut nama Nabi Muhammad Saw, siapa pun tidak akan pernah bisa menjadi seorang muslim. Karena membaca dua kalimat syahadat tidak mungkin tanpa menyebut nama beliau. Tanpa menyebut namanya, siapa pun yang sedang berkhotbah di masjid pada hari Jum’at tidak akan sah khotbahnya. Karena khotbah tidak boleh tanpa syahadat dan shalawat kepada beliau.

Tanpa menyebut namanya, siapa pun orang yang adzan tidak akan sah adzannya. Karena syahadat harus dibaca ketika adzan. Tanpa menyebut namanya, siapa pun orang yang melaksanakan shalat tidak sah shalatnya. Karena membaca syahadat dan shalawat juga wajib saat tahiyyat. Dan tidak tanggung-tanggung, beliau adalah satu-satunya orang yang namanya disandingkan dengan nama Allah Ta’ala di atas pintu surga sebagaimana yang dituturkan di dalam berbagai riwayat.

Beliau adalah satu-satunya nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala sebagai rahmat bagi seluruh alam raya, tidak saja untuk umat manusia, tapi juga semua anasir dari makhluk-makhluk yang lain. Semenjak jauh sebelum beliau dilahirkan hingga di akhir masa kelak. Sementara nabi-nabi yang lain hanya diutus untuk kaum mereka masing-masing pada periode tertentu semata. Wallahu a’lamu bish-shawab.

It https://www.designyourway.net/blog/misc/how-to-create-a-successful-graphic-designer-resume/ incorporates smart views to help you sort and sift through the news and updates easily.

BARZAKH

Oleh Kuswaidi Syafiie

Ada dimensi lahiriah. Ada dimensi batiniah. Keduanya menunjuk kepada Allah Ta’ala sebaimana yang secara tegas diungkapkan oleh Qur’an surat al-Hadid ayat tiga. Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240 M), memahami adanya dua dimensi yang disandang oleh hadiratNya itu tidak boleh tidak mesti lewat pintu makhlak-makhluk. Dengan pendapatnya ini, sebenarnya beliau sedang menyanggah pernyataan Imam al-Ghazali (wafat pada 1111 M) yang menegaskan bahwa memahami kedua dimensi yang sakral itu bisa langsung kepada Allah Ta’ala.

Alasan Ibn ‘Arabi jelas bahwa bagaimana mungkin hadiratNya itu bisa dibaca dan dipahami tanpa perantara makhluk-makhluk sebagai pintu masuk? Bukankah makrifat itu merupakan karunia rohani dan gelar bagi manusia tertentu yang jelas-jelas sebagai suatu entitas dari makhluk itu?
Secara substansial memang diungkapkan dalam khazanah sufisme bahwa hanya dengan penglihatan Allah Ta’ala seseorang yang makrifat itu bisa “menjangkau” dan memandang hadiratNya. Tanpa keterlibatan Allah Ta’ala itu sendiri, tidak mungkin ada siapa pun yang akan sanggup mengenalNya. Juga tidak mungkin ada siapa pun yang akan sepenuh hati bersembah sujud kepadaNya. Akan tetapi, bukankah secara realitas hal itu juga melibatkan makhluk?

Walau hakikat wujud secara hakiki sesungguhnya memang satu, yaitu wujud Allah Ta’ala itu sendiri, tapi berkaitan dengan dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian itu, apa boleh buat, kita mesti menempatkan dua dimensi yang sangat sakral itu pada pos masing-masing. Tujuannya jelas. Tak lain adalah agar kita menjadi semakin makrifat, makin mengetahui “program” kehendak dan kuasaNya, makin merasakan kemahaanNya yang tidak bertepi yang berpendar lewat segala sesuatu.
Dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian: keduanya saling bercermin, keduanya saling memandang, keduanya saling membutuhkan, keduanya merupakan dua entitas yang terlampau sublim, keduanya merupakan dua kutub yang padu sekaligus merupakan “satu kesatuan”. Dengan keduanya, tergelarlah alam semesta dan Allah Ta’ala tampil sebagai Rabbul’alamin, Tuhan bagi seluruh jagat raya.

Dan di antara dua dimensi keilahian itu ada sebuah posisi agung yang selain berfungsi sebagai “pemisah”, juga merupakan penghung yang teguh dan kredibel di antara keduanya. Itulah posisi barzakh alias penengah yang diduduki oleh Nabi Muhammad Saw. Dan tentu saja beliau merupakan satu-satunya yang termulia di antara seluruh makhlukNya.

Posisi barzakh itu merupakan kedudukan rohani paling bergengsi yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain nabi yang merupakan rahmat bagi segenap alam raya itu. Karena itu dapat dipastikan bahwa beliau merupakan naskah atau salinan langsung dari hadiratNya. Seluruh anasir alam raya “menyimpan alamat” Allah Ta’ala. Akan tetapi, sungguh, alamat hadiratNya yang paling sempurna dan paling gamblang itu berada pada diri uswah hasanah, ketauladanan paling luhur, Nabi Muhammad Saw.

Ada korelasi antara Allah Ta’ala dengan seluruh komponen alam semesta. Tidak ada satu pun yang terlepas dari jangkauan dan cengkraman kemahaanNya. Dan korelasi yang terkuat itu terjalin dengan Sayyid al-Anbiya wa al-Mursalin Saw. Karena itu, garansi berikut ini jangan pernah terlalaikan oleh diri kita: siapa pun yang telah memiliki hubungan spesial secara spiritual dengan beliau, dapat dipastikan bahwa dia akan mendapatkan kedudukan rohani yang sempurna di hadapan hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.


Keterangan gambar: Undangan Pengajian dan Musik, Anggur Maulana Rumi (Group Musik PP Maulana Rumi) Terbuka Untuk Umum.

However, why not try this out it is able to function as a stand-alone rss reader.

MAHA CAHAYA

Oleh Kuswaidi Syafiie

 

Allah SWT menuturkan tentang diriNya sebagai sumber segala cahaya. Baik cahaya yang bersifat lahiriah seperti yang tertampung pada matahari, rembulan, bintang-gemintang dan segala macam lampu-lampu hasil kreativitas akal terampil manusia, maupun cahaya yang bersifat batiniah seperti ilmu pengetahuan, makrifat, hikmah dan petunjuk, semua itu berasal-usul dan memancar dari hadiratNya belaka, sama sekali tidak dari apapun atau siapapun yang lain.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya seperti sebuah ceruk yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu berada dalam sebuah kaca. Dan kaca itu seakan bintang berkilauan yang dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati yang tidak ada di sebelah timur dan di sebelah barat sesuatu. Minyak pohon itu memancarkan cahaya walaupun tak tersentuh oleh api. Cahaya yang melampaui segala cahaya. Allah memberikan petunjuk bagi cahayaNya terhadap siapapun yang Allah kehendaki. Allah mengungkapkan perumpamaan itu untuk manusia. Dan Allah mengetahui segala sesuatu,” (QS. An-Nur: 35).

Dalam diskursus sufisme yang rimbun dengan nilai-nilai teologis, utamanya yang disemarakkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, yang dimaksud dengan cahaya langit tidak lain adalah cahaya ruh. Sedangkan yang dimaksud cahaya bumi dalam konteks kedirian seorang salik yang menempuh perjalanan ruhani mengacu terhadap segala kekuatan indrawi lahiriah.

Kedua model cahaya itu memancar dari hadiratNya. Secara filosofis-sufistik, hal itu bermakna bahwa segala sesuatu yang bertebaran di langit dan bumi mengalami wujud semata karena ditopang oleh tajalli wujudNya. Wujud adalah cahaya dan ketiadaan adalah kegelapan. Berarti bahwa yang mutlak ada itu adalah Allah semata. Sementara segala yang lain masuk dalam kategori mumkinul wujud, yaitu keberadaanya bergantung kepada yang lain.

Sebagaimana langit yang melingkupi bumi, secara ideal kekuatan spiritual ruh mesti merasuk dan melingkupi seluruh aktivitas jasad sehingga tindakan, keputusan dan perilaku orang-orang beriman mencerminkan adanya sejumlah perangai dan sifat Allah SWT belaka.

Hal itu dimungkinkan karena setidaknya adanya dua alasan. Pertama, ruh itu sesungguhnya merupakan bayang-bayang kehadiranNya yang dengan sengaja disematkan pada diri manusia. Andaikan ruh dalam diri manusia tidak ada, tentu saja rentang “jarak yang teramat panjang” antara mereka dengan Allah SWT tidak akan pernah terlipat dan tertekuk sebagaimana semestinya di dalam atmosfer makrifat. Sebab, bukankah ketiadaan ruh sama saja dengan kemungkinan ketiadaan korelasi spiritual dengan hadiratNya?

Kedua, ayat di atas yang menyatakan bahwa perumpamaan cahayaNya adalah seperti ceruk yang di dalamnya ada pelita menunjukkan bahwa sangatlah mungkin nuansa kekelaman jasad yang disimbolkan dengan ceruk itu disetting untuk sanggup menampung sekaligus mengelola adanya pelita ruh yang singgah di dalamnya.

Sungguh menakjubkan bahwa ruh yang sebenarnya tidak membutuhkan ruang sekaligus waktu dan sanggup melesat melampaui segala macam kecepatan materi itu oleh Allah SWT ditambatkan pada jasad yang jelas-jelas dikangkangi oleh ruang sekaligus digocoh oleh waktu. Itulah konsepsi tentang manusia sebagai ahsanu taqwim, sebaik-baik performen dan pengejawantahan spiritual. Lewat kemungkinan ini pula orang-orang pilihanNya sanggup mendaki secara spiritual hingga mengungguli kedudukan-kedudukan ruhani para malaikat.

Idiom kaca pada ayat di atas mengacu terhadap hati yang telah tersucikan karena tersepuh oleh cahaya yang disemprongkan oleh ruh. Dan kaca itu diserupakan dengan bintang yang berkilauan karena adanya sejumlah alasan berikut ini: karena kelusannya (dalam wacana astrologi, luas bintang bisa sampai 25.000 kali lipat dibandingkan bumi yang kita huni ini), karena terangnya cahaya yang dimiliki, karena ketinggian kedudukannya, dan karena melimpahnya berkas-berkas cahaya yang ada padanya.

Dan simbol pohon yang merupakan pangkal mula dari berkilaunya bintang itu tidak lain adalah jiwa yang jernih dan telah tersucikan dari segala hasrat yang tertuju kepada selain hadiratNya. Jiwa suci itu duserupakan dengan pohon di samping karena cabangnya yang banyak, juga karena segenap kekuatannya. Ia tumbuh dari bumi jasad, dahan-dahannya meninggi hingga ke cakrawala hati, lalu menembus sampai di langit ruh.

Jiwa suci itu diberkati lantaran banyaknya faidah dan kemanfaatan yang bersemayam di dalamnya yang merupakan buah dari akhlak dan perilaku terpuji yang menghiasinya, juga lantaran pesatnya pendakian dalam menggapai kesempurnaan dan kesanggupan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya untuk mendapuk dua kebahagiaan sekaligus, yaitu di dunia ini dan di akhirat nanti.

Ya Allah Yang Maha Cahaya, dengan kemurahanmu cahayailah gerak dan diam kami, cahayailah keputusan dan langkah kami, cahayailah jaga dan tidur kami, cahayailah pemimpin-pemimpin kami, cahayailah saudara-saudara sebangsa kami, cahayailah generasi-generasi penerus kami. Engkau tak pernah kikir. Dan sungguh, sungguh kami sangat membutuhkanMu. Amin.

A great excellent rss reader that can almost do anything that https://www.lifecoachcode.com/2020/03/10/study-tips-for-hard-learners-in-college/ you can think of to rss updates.

MENELUSURI WUJUD

Oleh Kuswaidi Syafiie

Kesempurnaan spiritualitas bisa mengantarkan seseorang pada kesanggupan untuk menyaksikan rangkaian wujud dari awal mula penciptaan hingga titik akhir perjalanan kehidupan. Hal itu dimungkinkan karena pada spiritualitas yang sempurna itu terdapat mata nyalang yang tajam dan jernih hingga jarak jalinan kausalitas yang sedemikian panjang bisa ditekuk dan digenggam sebagai sebuah titik kesatuan.

Seorang penjaga gawang rohani Thariqah Syadziliyah, Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili, di puncak gunung spiritualitasnya dengan tegas pernah menyatakan: “Andaikan tidak dilarang oleh syari’at, saya bisa menyebutkan seluruh rangkaian kejadian dari awal mula alam diciptakan hingga para calon penghuni surga masuk surga dan para calon penghuni neraka masuk neraka.”

Artinya adalah bahwa penglihatan seseorang yang rohaninya sempurna itu sungguh begitu jauh menembus ke kekelaman hutan milyaran tahun di masa silam sekaligus menerobos jauh ke alam keabadian di rerimbunan akhirat yang masih sayup dan kelam. Dan kalau seorang Abu al-Hasan asy-Syadzili yang secara spiritual merupakan derivasi dari rohani Nabi Muhammad Saw memiliki penglihatan sedemikian tajam seperti itu, apalagi Sang Nabi itu sendiri: pasti penglihatan beliau jauh lebih tajam dan lebih jernih.

Penglihatan yang tajam seperti itu terdapat di dalam hakikat kemanusiaan. Tidak ada pada diri binatang. Pun, tidak ada pada diri malaikat. Juga tidak ada pada makhluk-makhluk apa pun yang lain. Akan tetapi satu hal menjadi pasti bahwa pandangan yang tajam itu tidak secara otomatis bisa dialami oleh semua orang. Hanya orang-orang yang berjerih payah di jalan rohani dan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala yang akan memiliki kesanggupan seperti itu. Karena hal seperti itu mutlak merupakan kuasa hadiratNya.

Di penglihatan rohani yang tajam itu, setidaknya ada tiga hal yang bisa ditangkap secara serentak. Pertama, awal dan akhir yang kesannya terdiri dari dua kutub yang berseberangan itu ternyata satu jua adanya. Di sini, dualisme itu hanyalah bayang-bayang yang tidak lebih dari sebuah “tipuan.” Di antara keduanya seolah terbentang suatu demarkasi yang tidak kepalang tanggung luasnya, tapi ternyata apa yang disebut sebagai jarak itu sesungguhnya tidak ada dan tidak akan pernah ada secara hakiki.

Kedua, rangkaian sebab-akibat dalam proses perjalanan kehidupan itu sebenarnya tidak lain adalah “permainan” Tuhan. Sengaja saya letakkan idiom permainan itu di antara dua tanda kutip. Alasannya jelas bahwa Tuhan tidak pernah main-main dengan segala ketentuanNya. Apa pun yang ditentukan oleh hadiratNya murni merupakan kebenaran yang penuh dengan pelajaran rohani dan hikmah. Tapi itu juga saya sebut sebagai permainan karena Tuhan sendiri tidak wajib patuh terhadap serangkaian aturan yang merupakan hukum alamNya itu. Kerapkali Dia sendiri melakukan intervensi terhadap hukum kausalitasNya. Seperti terjadinya mukjizat pada para nabi, karomah pada para wali, ma’unah pada orang kebanyakan, dan lain sebagainya.

Ketiga, cahaya Nabi Muhammad Saw merupakan awal mula wujud alam semesta. Ia menjadi selubung sekaligus “substansi” dari segala sesuatu yang lain. Kalau dengan pandangan mata batin yang jernih dan tajam kita melihat apa pun yang kita jumpai, kita akan menemukan stempel cahaya kenabian itu lekat pada seluruh yang ada. Sebagaimana kita juga akan menemukan stempel ketuhanan di situ. Inilah bukti dari adanya ma’rifah ar-Rasul. Inilah pula bukti dari adanya ma’rifah Allah.

Cahaya Nabi Muhammad Saw yang merupakan awwal al-wujud itu juga disebut sebagai akal pertama yang telah “berjasa” melahirkan seluruh makhluk yang lain, termasuk adanya dunia dan akhirat. Dan tujuan penciptaan semua yang ada itu, selain merupakan rangkaian sebab-akibat bagi kelahiran dan pertumbuhan Nabi Muhammad Saw, juga merupakan pembuktian bagi kesanggupan beliau menampung segala sesuatu. Beliau, dengan demikian, adalah keluasan yang tak terkira-kira. Beliau adalah gumpalan wujud yang paling berbobot dan paling bermutu. Beliau tak lain merupakan “duplikasi” hadiratNya yang paling terang dan paling menawan. Wallahu a’lamu bish-shawab.


*Kuswidi Syafiie, Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
It lacks some of the basic tools to place the news and updates in context and the interface largely depends on its theodysseyonline.com/5-resources-for-college-students wide screen format.

NASKAH AGUNG

Oleh Kuswaidi Syafiie

Karena Nabi Muhammad Saw merupakan orientasi terpenting dari kehendak Allah Ta’ala yang azali dalam konteks keterkaitannya dengan penciptaan, maka dapat dipastikan adanya dua hal berikut ini. Pertama, tidak ada yang lebih sempurna, lebih istimewa, dan lebih mulia di antara seluruh makhluk di hadapan hadiratNya dibandingkan dengan beliau.

Posisi itu yang kemudian menjadikan beliau sebagai اقرب الوسائل atau paling dekatnya perantara kepada Allah Ta’ala. Sehingga dapat digaransi bahwa siapa pun yang mendekat kepada beliau secara spiritual bisa dipastikan dia akan menjadi orang yang mendapatkan kedudukan yang mulia di hadapan hadiratNya. Itulah sebabnya umat Islam dengan tegas diperintahkan untuk mencontoh tauladan-tauladan beliau dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan.

Kedua, secara substansial, tidak ada siapa pun dari kalangan makhluk yang lebih “mirip” dengan Allah Ta’ala dibandingkan dengan Nabi Muhammad Saw. Kemiripan di sini tidak ada sangkut pautnya dengan rupa, bentuk dan warna. Karena dapat dipastikan bahwa Allah Ta’ala itu Mahasuci dari hal-ihwal tersebut. Tapi lebih menunjuk kepada akhlak dan perilaku beliau secara esensial. Itulah sebabnya kenapa pada suatu hari beliau pernah melontarkan sabdanya, “Berakhlaklah kalian sebagaimana Allah Ta’ala.” Itulah pula sebabnya kenapa Siti ‘Aisyah, istri beliau, pernah menyatakan bahwa akhlak Nabi Pungkasan Saw itu tidak lain adalah Qur’an. Artinya adalah bahwa tidak ada satu pun dari kalam hadiratNya itu yang tidak diamalkan dengan sepenuh hati oleh beliau.

Dari sini kemudian bisa ditarik sebuah konklusi bahwa kehadiran beliau di pentas sejarah kehidupan umat manusia secara hakiki merupakan salinan yang paling sempurna dan cemerlang dari kehadiran Allah Ta’ala itu sendiri. Beliau merupakan naskah agung paling otentik yang datang langsung dari hadiratNya. Sikap hidup dan sepak terjang beliau senantiasa dipandu oleh tangan kemahaanNya sehingga selalu terjaga dari keterperosokan dan perbuatan serong yang bisa menjadikan namanya tercemar.

Sebuah stempel transendental datang secara langsung dari suatu ayat di dalam Qur’an yang menjamin keterjagaan beliau dari kekalahan terhadap keburukan dan kekelaman nafsu, “Dan tidaklah beliau bertindak kerena hawa nafsu melainkan dibimbing wahyu yang diturunkan kepadanya,” (QS. An-Najm: 3).

Dan karena Nabi Muhammad Saw merupakan yang paling inti dari seluruh rangkaian penciptaan, merupakan naskah paling agung, merupakan realitas yang paling utuh dari segala wujud, merupakan ringkasan paling mulia dan paling sempurna dari seluruh yang ada, sangatlah pantas kalau beliau mendapatkan pertolongan yang terbesar dari Allah Ta’ala. Sebab, lewat perantara beliaulah rahmatNya itu mengalir dan memenuhi segenap alam semesta.

Ibarah sebuah wadah, beliau adalah wadah karunia yang paling luas, paling besar dan paling tangguh. Sehingga beliau sangat memenuhi syarat untuk menerima sebanyak mungkin keberuntungan dan karunia dari hadiratNya. Sampai-sampai ada ungkapan tentang beliau di kalangan para sufi bahwa para nabi itu diciptakan dari rahmat Allah Ta’ala, sementara junjungan umat Islam Nabi Muhammad Saw tak lain merupakan rahmat itu sendiri.

Dan rahmat terbesar dan paling bergengsi secara spiritual itu adalah karunia rohani. Seluruh karunia materi hanyalah secuil kalau dibandingkan dengan karunia rohani. Karena itu, tidak akan pernah ada siapa pun yang telah mencicipi dan mengunyah rahmat rohani akan menjadi tergila-gila dan memburu karunia materi semata. Tidak mungkin. Karena jarak perbandingan di antara keduanya itu sangat jauh, jauh sekali. Seperti jauhnya jarak nilai antara tumpukan kerikil dengan intan permata. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Artikel ini ditulis langsung oleh pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

WIHDATUL WUJUD

Oleh Kuswaidi Syafiie

Sesungguhnya berapakah jumlah wujud itu? Satu, dua, tiga atau sampai tak terhingga dengan keanekaragaman yang tak terkira-kira? Di panggung kehidupan yang senantiasa bergemuruh dan selalu menagih perhatian ini, kita bisa dengan mudah menyaksikan aneka warna, aneka rupa, aneka bentuk dan berbagai macam penampilan makhluk-makhluk. Bahkan sampai terkesan tak terhingga.
Secara substansial, ternyata wujud itu sebenarnya hanyalah satu. Bagaimana mungkin tidak, bukankah segala yang aneka itu berasal-usul dari yang satu juga? Tidak hanya itu. Bukankah segala yang aneka itu juga tidak bisa lepas dari genggaman Allah Ta’ala sebagai satu-satunya wujud yang mutlak? Bukankah hakikat keberadaan segala yang aneka itu adalah keberadaan hadiratNya? Segala yang aneka itu tidak mungkin ada dan tidak mungkin eksis tanpaNya.

Keanekaragaman itu tak lain merupakan “sempalan” atau derivasi dari secuil kemahaanNya saja yang tidak akan pernah memiliki otonomi dan kemutlakan untuk dirinya sendiri. Keanekaragaman itu merupakan pengejawantahan dari dimensi lahiriahNya atau bahkan malah dimensi lahiriahNya itu sendiri. Sebagai dirinya sendiri, segala yang aneka itu senantiasa berada dalam “ruang” yang seolah-olah, tak lebih dan tak kurang: seolah-olah ada, seolah-olah eksis dan seolah-olah berbeda antara yang satu dengan yang lain. Sebenarnya semua itu satu warna sebagai ketiadaan yang menganga.
Selain dimensi lahiriah yang tidak lain adalah alam semesta ini, wujud tunggal yang mutlak itu juga memiliki dimensi batiniah. Yaitu, nama-nama Allah Ta’ala yang senantiasa beroperasi sesuai dengan profesi masing-masing. Obyek garapan dari nama-nama itu adalah seluruh anasir alam raya. Tidak ada satu atom pun yang luput dari garapan nama-nama itu. Seandainya nama-nama itu mengundurkan diri setitik debu, dari sebuah pohon, dari sebuah bangunan, maka semua itu akan lenyap seketika, tanpa bekas dan tanpa sisa sedikit pun. Demikian pula kalau nama-nama itu undur diri dari segenap alam semesta, maka segalanya itu akan kembali lagi ke lumbung ketiadaan sebagaimana segala sesuatu belum bermula.

Hubungan nama-nama keilahian dengan seabrek garapannya itu merupakan suatu kepastian. Sebab, makna dari nama-nama itu jelas-jelas konotatif terhadap segala sesuatu yang bertebaran di alam semesta. Tak ada satu pun nama hadiratNya yang nganggur. Pun, tidak ada sesuatu yang terlepas dari cengkraman namaNya. Karena itu, secara logis dapat dipastikan bahwa namaNya itu adalah “sesuatu” di alam semesta. Dan sesuatu di alam semesta tak lain merupakan namaNya. Kalau demikian, coba tunjukkan yang manakah yang bukan hadiratNya? Sedang nama dan dzat Allah Ta’ala tidak terpisahkan kecuali hanya dalam penjelasan tentang keduanya.

Antara dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian itu sesungguhnya tidak ada demarkasi sama sekali. Akan tetapi persoalannya akan menjadi lain ketika yang kita pakai untuk mengamati hanyalah mata kepala belaka. Pasti yang bisa kita saksikan adalah makhluk-makhluk yang empirik semata. Di sini, makhluk-makhluk tidak bisa tampil sebagai dimensi lahiriahNya, tapi hanya tampak sebagai onggokan-onggokan yang profan, penuh kekurangan, mengalami kerusakan dan pada akhirnya akan ambruk dan musnah oleh gilasan waktu.

Agar tidak terlihat profan, agar tidak terkesan imanen semata, kita mesti melihat alam raya ini dengan kekuatan mata batin, dengan bashirah. Dengan penglihatan spiritual ini, kita akan diantarkan pada dua “kenyataan” sekaligus. Pertama, kemutlakan Allah Ta’ala di balik segala keterbatasan alam raya. Sebagaimana seorang salik yang menemukan samudera raya tak bertepi yang bersemayam di balik setetes embun yang dijumpainya.

Kedua, sesungguhnya tidak ada apa-apa atau siapa pun selain hadiratNya. Secara hakiki, seluruh ada atau wujud tak lain adalah adaNya juga. Tidak mungkin betul-betul ada wujud yang lain. Allah Ta’ala itu senantiasa sendiri, sampai kapan pun. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Allah ada dan tidak ada apa pun yang bersamaNya. Dia sekarang adalah sebagaimana yang dulu juga.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

It features an option that alerts you visit for new stories and share options.