MAHA CAHAYA

Oleh Kuswaidi Syafiie

 

Allah SWT menuturkan tentang diriNya sebagai sumber segala cahaya. Baik cahaya yang bersifat lahiriah seperti yang tertampung pada matahari, rembulan, bintang-gemintang dan segala macam lampu-lampu hasil kreativitas akal terampil manusia, maupun cahaya yang bersifat batiniah seperti ilmu pengetahuan, makrifat, hikmah dan petunjuk, semua itu berasal-usul dan memancar dari hadiratNya belaka, sama sekali tidak dari apapun atau siapapun yang lain.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya seperti sebuah ceruk yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu berada dalam sebuah kaca. Dan kaca itu seakan bintang berkilauan yang dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati yang tidak ada di sebelah timur dan di sebelah barat sesuatu. Minyak pohon itu memancarkan cahaya walaupun tak tersentuh oleh api. Cahaya yang melampaui segala cahaya. Allah memberikan petunjuk bagi cahayaNya terhadap siapapun yang Allah kehendaki. Allah mengungkapkan perumpamaan itu untuk manusia. Dan Allah mengetahui segala sesuatu,” (QS. An-Nur: 35).

Dalam diskursus sufisme yang rimbun dengan nilai-nilai teologis, utamanya yang disemarakkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, yang dimaksud dengan cahaya langit tidak lain adalah cahaya ruh. Sedangkan yang dimaksud cahaya bumi dalam konteks kedirian seorang salik yang menempuh perjalanan ruhani mengacu terhadap segala kekuatan indrawi lahiriah.

Kedua model cahaya itu memancar dari hadiratNya. Secara filosofis-sufistik, hal itu bermakna bahwa segala sesuatu yang bertebaran di langit dan bumi mengalami wujud semata karena ditopang oleh tajalli wujudNya. Wujud adalah cahaya dan ketiadaan adalah kegelapan. Berarti bahwa yang mutlak ada itu adalah Allah semata. Sementara segala yang lain masuk dalam kategori mumkinul wujud, yaitu keberadaanya bergantung kepada yang lain.

Sebagaimana langit yang melingkupi bumi, secara ideal kekuatan spiritual ruh mesti merasuk dan melingkupi seluruh aktivitas jasad sehingga tindakan, keputusan dan perilaku orang-orang beriman mencerminkan adanya sejumlah perangai dan sifat Allah SWT belaka.

Hal itu dimungkinkan karena setidaknya adanya dua alasan. Pertama, ruh itu sesungguhnya merupakan bayang-bayang kehadiranNya yang dengan sengaja disematkan pada diri manusia. Andaikan ruh dalam diri manusia tidak ada, tentu saja rentang “jarak yang teramat panjang” antara mereka dengan Allah SWT tidak akan pernah terlipat dan tertekuk sebagaimana semestinya di dalam atmosfer makrifat. Sebab, bukankah ketiadaan ruh sama saja dengan kemungkinan ketiadaan korelasi spiritual dengan hadiratNya?

Kedua, ayat di atas yang menyatakan bahwa perumpamaan cahayaNya adalah seperti ceruk yang di dalamnya ada pelita menunjukkan bahwa sangatlah mungkin nuansa kekelaman jasad yang disimbolkan dengan ceruk itu disetting untuk sanggup menampung sekaligus mengelola adanya pelita ruh yang singgah di dalamnya.

Sungguh menakjubkan bahwa ruh yang sebenarnya tidak membutuhkan ruang sekaligus waktu dan sanggup melesat melampaui segala macam kecepatan materi itu oleh Allah SWT ditambatkan pada jasad yang jelas-jelas dikangkangi oleh ruang sekaligus digocoh oleh waktu. Itulah konsepsi tentang manusia sebagai ahsanu taqwim, sebaik-baik performen dan pengejawantahan spiritual. Lewat kemungkinan ini pula orang-orang pilihanNya sanggup mendaki secara spiritual hingga mengungguli kedudukan-kedudukan ruhani para malaikat.

Idiom kaca pada ayat di atas mengacu terhadap hati yang telah tersucikan karena tersepuh oleh cahaya yang disemprongkan oleh ruh. Dan kaca itu diserupakan dengan bintang yang berkilauan karena adanya sejumlah alasan berikut ini: karena kelusannya (dalam wacana astrologi, luas bintang bisa sampai 25.000 kali lipat dibandingkan bumi yang kita huni ini), karena terangnya cahaya yang dimiliki, karena ketinggian kedudukannya, dan karena melimpahnya berkas-berkas cahaya yang ada padanya.

Dan simbol pohon yang merupakan pangkal mula dari berkilaunya bintang itu tidak lain adalah jiwa yang jernih dan telah tersucikan dari segala hasrat yang tertuju kepada selain hadiratNya. Jiwa suci itu duserupakan dengan pohon di samping karena cabangnya yang banyak, juga karena segenap kekuatannya. Ia tumbuh dari bumi jasad, dahan-dahannya meninggi hingga ke cakrawala hati, lalu menembus sampai di langit ruh.

Jiwa suci itu diberkati lantaran banyaknya faidah dan kemanfaatan yang bersemayam di dalamnya yang merupakan buah dari akhlak dan perilaku terpuji yang menghiasinya, juga lantaran pesatnya pendakian dalam menggapai kesempurnaan dan kesanggupan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya untuk mendapuk dua kebahagiaan sekaligus, yaitu di dunia ini dan di akhirat nanti.

Ya Allah Yang Maha Cahaya, dengan kemurahanmu cahayailah gerak dan diam kami, cahayailah keputusan dan langkah kami, cahayailah jaga dan tidur kami, cahayailah pemimpin-pemimpin kami, cahayailah saudara-saudara sebangsa kami, cahayailah generasi-generasi penerus kami. Engkau tak pernah kikir. Dan sungguh, sungguh kami sangat membutuhkanMu. Amin.

A great excellent rss reader that can almost do anything that https://www.lifecoachcode.com/2020/03/10/study-tips-for-hard-learners-in-college/ you can think of to rss updates.

MENELUSURI WUJUD

Oleh Kuswaidi Syafiie

Kesempurnaan spiritualitas bisa mengantarkan seseorang pada kesanggupan untuk menyaksikan rangkaian wujud dari awal mula penciptaan hingga titik akhir perjalanan kehidupan. Hal itu dimungkinkan karena pada spiritualitas yang sempurna itu terdapat mata nyalang yang tajam dan jernih hingga jarak jalinan kausalitas yang sedemikian panjang bisa ditekuk dan digenggam sebagai sebuah titik kesatuan.

Seorang penjaga gawang rohani Thariqah Syadziliyah, Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili, di puncak gunung spiritualitasnya dengan tegas pernah menyatakan: “Andaikan tidak dilarang oleh syari’at, saya bisa menyebutkan seluruh rangkaian kejadian dari awal mula alam diciptakan hingga para calon penghuni surga masuk surga dan para calon penghuni neraka masuk neraka.”

Artinya adalah bahwa penglihatan seseorang yang rohaninya sempurna itu sungguh begitu jauh menembus ke kekelaman hutan milyaran tahun di masa silam sekaligus menerobos jauh ke alam keabadian di rerimbunan akhirat yang masih sayup dan kelam. Dan kalau seorang Abu al-Hasan asy-Syadzili yang secara spiritual merupakan derivasi dari rohani Nabi Muhammad Saw memiliki penglihatan sedemikian tajam seperti itu, apalagi Sang Nabi itu sendiri: pasti penglihatan beliau jauh lebih tajam dan lebih jernih.

Penglihatan yang tajam seperti itu terdapat di dalam hakikat kemanusiaan. Tidak ada pada diri binatang. Pun, tidak ada pada diri malaikat. Juga tidak ada pada makhluk-makhluk apa pun yang lain. Akan tetapi satu hal menjadi pasti bahwa pandangan yang tajam itu tidak secara otomatis bisa dialami oleh semua orang. Hanya orang-orang yang berjerih payah di jalan rohani dan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala yang akan memiliki kesanggupan seperti itu. Karena hal seperti itu mutlak merupakan kuasa hadiratNya.

Di penglihatan rohani yang tajam itu, setidaknya ada tiga hal yang bisa ditangkap secara serentak. Pertama, awal dan akhir yang kesannya terdiri dari dua kutub yang berseberangan itu ternyata satu jua adanya. Di sini, dualisme itu hanyalah bayang-bayang yang tidak lebih dari sebuah “tipuan.” Di antara keduanya seolah terbentang suatu demarkasi yang tidak kepalang tanggung luasnya, tapi ternyata apa yang disebut sebagai jarak itu sesungguhnya tidak ada dan tidak akan pernah ada secara hakiki.

Kedua, rangkaian sebab-akibat dalam proses perjalanan kehidupan itu sebenarnya tidak lain adalah “permainan” Tuhan. Sengaja saya letakkan idiom permainan itu di antara dua tanda kutip. Alasannya jelas bahwa Tuhan tidak pernah main-main dengan segala ketentuanNya. Apa pun yang ditentukan oleh hadiratNya murni merupakan kebenaran yang penuh dengan pelajaran rohani dan hikmah. Tapi itu juga saya sebut sebagai permainan karena Tuhan sendiri tidak wajib patuh terhadap serangkaian aturan yang merupakan hukum alamNya itu. Kerapkali Dia sendiri melakukan intervensi terhadap hukum kausalitasNya. Seperti terjadinya mukjizat pada para nabi, karomah pada para wali, ma’unah pada orang kebanyakan, dan lain sebagainya.

Ketiga, cahaya Nabi Muhammad Saw merupakan awal mula wujud alam semesta. Ia menjadi selubung sekaligus “substansi” dari segala sesuatu yang lain. Kalau dengan pandangan mata batin yang jernih dan tajam kita melihat apa pun yang kita jumpai, kita akan menemukan stempel cahaya kenabian itu lekat pada seluruh yang ada. Sebagaimana kita juga akan menemukan stempel ketuhanan di situ. Inilah bukti dari adanya ma’rifah ar-Rasul. Inilah pula bukti dari adanya ma’rifah Allah.

Cahaya Nabi Muhammad Saw yang merupakan awwal al-wujud itu juga disebut sebagai akal pertama yang telah “berjasa” melahirkan seluruh makhluk yang lain, termasuk adanya dunia dan akhirat. Dan tujuan penciptaan semua yang ada itu, selain merupakan rangkaian sebab-akibat bagi kelahiran dan pertumbuhan Nabi Muhammad Saw, juga merupakan pembuktian bagi kesanggupan beliau menampung segala sesuatu. Beliau, dengan demikian, adalah keluasan yang tak terkira-kira. Beliau adalah gumpalan wujud yang paling berbobot dan paling bermutu. Beliau tak lain merupakan “duplikasi” hadiratNya yang paling terang dan paling menawan. Wallahu a’lamu bish-shawab.


*Kuswidi Syafiie, Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
It lacks some of the basic tools to place the news and updates in context and the interface largely depends on its theodysseyonline.com/5-resources-for-college-students wide screen format.

PUISI DAN MUSIK

Oleh: Kuswaidi Syafiie

PUISI DAN MUSIK adalah bagian dari karya seni yang memiliki impresi tersendiri di dalam kehidupan. Yang lebih luas jangkauannya tentu saja adalah musik, baru kemudian puisi.

Di dalam keduanya, berbagai golongan bisa dengan mudah dikonvergensikan dengan titik sentuhnya masing-masing. Keduanya juga bisa menarik siapa pun kepada kelezatan yang eksotis, kepada hamparan perenungan, bahkan kepada Tuhan.

Tentang keduanya itu, saya sering merenung: apa sesungguhnya rahasia Tuhan yang berada di balik penciptaan kedua “makhluk” itu? Dengan menggunakan kedua makhluk itu sebagai sayap, saya seringkali menerobos batas-batas kefanaan. Sehingga akhirnya saya dibuat bingung tidak karuan oleh padang luas tak terbatas kemahaanNya.


*Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
However, there is a slight issue with this rss https://rousernews.com/streaming-sites-for-college-students/ reader.

Kajian Burdah41; Basabasi Sorowajan Yogyakarta

فهو اللذي تم معناه وصورته
ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسم
Kanjeng Rasulullah Saw adalah seorang manusia yang, baik secara makna batiniah maupun rupanya, telah sempurna. Lalu Tuhan semesta alam memilih beliau sebagai kekasih.
Dihikayatkan bahwa pada malam beliau mengalami mikraj, Allah Ta’ala berfirman kepadanya: “Wahai Muhammad, sesungguhnya raja-raja apabila telah jatuh hati kepada seorang budak dengan memberikan kekuasaan dan menjadikannya seorang raja pula, mereka segera mengumumkan kemuliaannya. Maka, apa yang kau inginkan dariKu untukmu?”
Sang Nabi terpilih itu menjawab: “Tolong sandarkan diriku kepadaMu, ya Tuhanku, dengan perantaraan penghambaan.” Lalu, diturunkanlah kepada beliau ayat pertama surat al-Isra’ itu: “Mahasuci Dia yang telah menjalankan hambaNya…”
Allah Ta’ala berfirman: ” Itu yang kau mohonkan. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dari hal itu. Yaitu, kebersandaranmu kepadaKu melalui cinta. Engkau adalah kekasih Allah.” Dan kita tahu bahwa pangkat sebagai Habibullah itu merupakan derajat rohani paling tinggi dibandingkan dengan pangkat rohani apa pun yang lain.
Pada bait di atas itu, dimensi rohani didahulukan ketimbang dimensi jasmani. Saya kira karena alasannya pasti bahwa titik pusat kemuliaan dan kebahagiaan hakiki bagi manusia tak lain adalah tergarapnya batin dengan sempurna secara spiritual. Bukan sebaliknya.
————
Oleh: Kiai Kuswaidi Syafiie, Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta