Kajian Burdah #42, di Cafe Basa Basi

منزه عن شريك في محاسنه
فجوهر الحسن فيه غير منقسم
Kanjeng Rasulullah Saw merdeka dari adanya sekutu di dalam keindahan-keindahannya. Pada diri beliau, permata keindahan itu sama sekali tidak terbagikan dengan siapa pun.
Seluruh keindahan dunia ini sepenuhnya berasal-usul dari keindahan beliau, bukan dari apa atau siapa pun yang lain. Beliau adalah satu-satunya makhluk yang mendapatkan keindahan paling utuh, paling lengkap dan paling maksimal takarannya dibandingkan makhluk yang lain. Dan hal itu didapat langsung oleh beliau dari Yang Mahaindah.
Dari gumpalan keindahan yang sedemikian sempurna pada diri beliau, muncullah kemudian seluruh aneka ragam keindahan yang bertebaran di seluruh alam raya. Mulai dari keindahan dengan takaran paling rendah hingga yang paling tinggi. Baik keindahan fisikal maupun keindahan spiritual.
Keindahan pantai, keindahan gunung, keindahan senja, keindahan matahari terbit, keindahan purnama raya, keindahan malam, keindahan pegunungan, keindahan segala aneka ragam musik dan lain sebagainya: semua itu hanyalah merupakan percikan kecil dari keindahan beliau. Demikian juga seluruh keindahan rohani dengan berbagai tingkatan dan takarannya, baik yang pernah dialami oleh umat manusia maupun yang terus ditekuni para malaikat hingga kapan pun.
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa beliau tidak lain merupakan induk dari segala kebaikan dan keterpujian. Sebab, keindahan-keindahan itu tak lain merupakan realisasi dari kebaikan dan keterpujian.


*Oleh: Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

Leaf influential hyperlink rss reader one college homework service thing that makes leaf rss reader stand-out is the fantastic design.

PUISI DAN MUSIK

Oleh: Kuswaidi Syafiie

PUISI DAN MUSIK adalah bagian dari karya seni yang memiliki impresi tersendiri di dalam kehidupan. Yang lebih luas jangkauannya tentu saja adalah musik, baru kemudian puisi.

Di dalam keduanya, berbagai golongan bisa dengan mudah dikonvergensikan dengan titik sentuhnya masing-masing. Keduanya juga bisa menarik siapa pun kepada kelezatan yang eksotis, kepada hamparan perenungan, bahkan kepada Tuhan.

Tentang keduanya itu, saya sering merenung: apa sesungguhnya rahasia Tuhan yang berada di balik penciptaan kedua “makhluk” itu? Dengan menggunakan kedua makhluk itu sebagai sayap, saya seringkali menerobos batas-batas kefanaan. Sehingga akhirnya saya dibuat bingung tidak karuan oleh padang luas tak terbatas kemahaanNya.


*Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
However, there is a slight issue with this rss https://rousernews.com/streaming-sites-for-college-students/ reader.

Baju dan Sarung

Oleh : Kuswaidi Syafiie

Baju dan sarung yang kupakai ini adalah pemberian Gus Kelik alias KH. Muhammad Rifqi Ali yang kemarin sore diantarkan oleh Saudara Hafizh. Gus Kelik adalah putra dari KH. Ali Maksum Krapyak. Gus Kelik masyhur sebagai orang yang khariq al-‘adah (melampaui kebiasaan orang-orang lain), sebagai wali yang memiliki banyak karamah.

Saya termasuk orang yang beruntung karena pernah menyaksikan dan mengalami langsung karamah Gus Kelik. Banyak sebenarnya. Tapi saya hanya akan menuturkan satu saja. Yaitu, pada sekitar tahun 2006 silam. Beliau bicara dengan setengah berbisik di dekat telinga saya: “Pak Kus, kulo ditumbasi piring rong gros, nggih? Atau bahasa Indonesianya: Pak Kus, saya dibelikan piring dua gros, ya?”
Saya yang sudah sangat percaya kepada kewalian beliau langsung saja merespon dengan “Beres sip” walaupun belum tahu uang yang harus saya keluarkan untuk dua gros piring itu berapa. Saya juga tidak tahu waktu itu dua gros itu jumlahnya berapa. Baru tahu kemudian ketika berada di swalayan Progo untuk membeli piring-piring itu dengan ditemani Pak Danar AS Aryo bahwa dua gros itu sama dengan dua puluh empat lusin.

Waduh, terkejut saya. Terus harganya? Ternyata dua juta lebih yang untuk ukuran kantong saya waktu itu nyaris mustahil. Untung Pak Aryo bawa uang cukup sehingga saya bisa ngutang dulu kepadanya. Sekitar dua atau tiga bulan berikutnya baru saya bisa melunasi hutang tersebut.

Piring-piring yang banyak itu diangkut dengan mobil Taruna milik Pak Aryo ke Krapyak, ke rumah Gus Kelik. Setelah saya serahkan, Gus Kelik kemudian bilang: “Pak Kus kalian garwo kulo dungakke sampe Mekkah-Madinah, nggih?” Saya mengaminkan dengan penuh harap. Beberapa waktu kemudian saya betul-betul sampai ke Mekkah dan Madinah. Berikutnya lagi ke Mekkah dan Madinah bersama istri dan rombongan. Bulan depan insyaallah berangkat lagi ke Mekkah dan Madinah. Sungguh karamah beliau itu nyata.

Keterangan foto: foto yang di sebelah saya adalah foto Gus Kelik bersama para santrinya. Beliau berkaos putih, sedang “menjenggot” salah satu santrinya.


*Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
It is able to organize and display the news and information in a smart the one post way.