SIFAT ILAHI

Oleh Kuswaidi Syafiie

Tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang tidak menerima salinan wujud dari Allah Ta’ala, dari mulai yang paling kecil sampai pada yang terbesar, dari mulai yang paling terkenal sampai yang sama sekali tidak diketahui oleh umat manusia, dari mulai yang paling rupawan sampai yang paling buruk, dari mulai yang paling kuat dan gagah sampai yang paling ringkih dan ceking, dan lain sebagainya.

Seluruh wujud mereka merupakan pengejawantahan dari wujud hadiratNya. Pasti. Karena jelas bahwa tidak ada sumber wujud yang lain lagi. Maka, konsekuensinya adalah bahwa seluruh wujud makhluk itu pastilah diliputi oleh asal-usul mereka itu sendiri. Dan dari situ pula sah adanya sebutan “Tuhan seluruh alam atau رب العالمين” yang disandang oleh hadiratNya.

Seluruh makhluk murni berposisi sebagai obyek di hadapan kemahaan Allah Ta’ala. Tidak ada satu pun di antara mereka yang betul-betul merupakan subyek. Dengan demikian, mereka secara substansial hanya bisa menerima pengaruh dan sama sekali tidak bisa sebaliknya. Dan di antara seluruh makhluk yang ada, manusialah yang paling memiliki kemungkinan untuk mendapatkan pengaruh keilahian sebanyak-banyaknya.

Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah mengikis segala bentuk egoisme yang bercokol dan eksis di dalam diri. Pada saat yang bersamaan juga bisa berarti ikhtiar untuk menampung berbagai macam pengaruh positif yang tercurah dari hadiratNya. Semakin terkikis dan kalis aneka ragam kekelaman dan dosa-dosa dari dalam diri, maka akan semakin luas dan kukuh pula porsi kemungkinan untuk menampung pengaruh-pengaruh keilahian tersebut.

Beribadah, baik secara mahdhah maupun ghairu mahdhah, baik secara vertikal maupun dalam konteks horizontal, tak lain merupakan proses “pengilahian” diri dengan cara menekuk jarak yang membentang antara diri kita dengan Allah Ta’ala. Semakin dekat diri kita dengan hadiratNya, semakin banyak pula sifat-sifat yang digelontorkanNya kepada kita.

Peristiwa tentang mukjizat yang dialami para nabi atau karamah yang dialami para wali yang merupakan kejadian luar biasa dan adikodrati mesti kita pandang dan pahami sebagai petunjuk yang konkret bahwa Allah Ta’ala itu telah sudi memerankan mereka secara langsung dalam kehidupan nyata agar menjadi sarana hidayah bagi orang-orang yang menyaksikannya.

Akan tetapi jelas bahwa sifat-sifat keilahian yang luar biasa dan adikodrati itu jangan pernah menjadi tujuan untuk kita miliki. Menyematkan tujuan itu di dalam ibadah-ibadah kita hanya akan merusak nilai-nilai penghambaan kita dan akan membuat serong langkah-langkah perjalanan rohani kita. Itulah sebabnya, ketika ada seseorang yang datang kepada Syaikh Abu Yazid al-Basthami dan menyatakan bahwa dia telah berpuasa selama tiga puluh tahun namun dia belum merasakan adanya bukti-bukti kewalian, Sang Syaikh itu kemudian menukas, “Kau tak akan pernah sampai pada kedudukan yang terpuji itu karena tujuanmu dengan berpuasa sudah melenceng.”

Artinya adalah bahwa menginginkan adanya sifat-sifat keilahian agar terealisasi ke dalam diri tak lain merupakan hijab yang tebal yang membuat siapa pun akan terpelanting jauh dari hadapan hadiratNya. Ibadah adalah membakar egoisme yang sempit dan sumpek. Sementara menginginkan sifat-sifat keilahian agar bersemayam di dalam diri adalah pengukuhan berhala egoisme yang kelam tersebut. Wallahu a’lamu bish-shawab.

*)Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

BARZAKH

Oleh Kuswaidi Syafiie

Ada dimensi lahiriah. Ada dimensi batiniah. Keduanya menunjuk kepada Allah Ta’ala sebaimana yang secara tegas diungkapkan oleh Qur’an surat al-Hadid ayat tiga. Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240 M), memahami adanya dua dimensi yang disandang oleh hadiratNya itu tidak boleh tidak mesti lewat pintu makhlak-makhluk. Dengan pendapatnya ini, sebenarnya beliau sedang menyanggah pernyataan Imam al-Ghazali (wafat pada 1111 M) yang menegaskan bahwa memahami kedua dimensi yang sakral itu bisa langsung kepada Allah Ta’ala.

Alasan Ibn ‘Arabi jelas bahwa bagaimana mungkin hadiratNya itu bisa dibaca dan dipahami tanpa perantara makhluk-makhluk sebagai pintu masuk? Bukankah makrifat itu merupakan karunia rohani dan gelar bagi manusia tertentu yang jelas-jelas sebagai suatu entitas dari makhluk itu?
Secara substansial memang diungkapkan dalam khazanah sufisme bahwa hanya dengan penglihatan Allah Ta’ala seseorang yang makrifat itu bisa “menjangkau” dan memandang hadiratNya. Tanpa keterlibatan Allah Ta’ala itu sendiri, tidak mungkin ada siapa pun yang akan sanggup mengenalNya. Juga tidak mungkin ada siapa pun yang akan sepenuh hati bersembah sujud kepadaNya. Akan tetapi, bukankah secara realitas hal itu juga melibatkan makhluk?

Walau hakikat wujud secara hakiki sesungguhnya memang satu, yaitu wujud Allah Ta’ala itu sendiri, tapi berkaitan dengan dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian itu, apa boleh buat, kita mesti menempatkan dua dimensi yang sangat sakral itu pada pos masing-masing. Tujuannya jelas. Tak lain adalah agar kita menjadi semakin makrifat, makin mengetahui “program” kehendak dan kuasaNya, makin merasakan kemahaanNya yang tidak bertepi yang berpendar lewat segala sesuatu.
Dimensi lahiriah dan dimensi batiniah keilahian: keduanya saling bercermin, keduanya saling memandang, keduanya saling membutuhkan, keduanya merupakan dua entitas yang terlampau sublim, keduanya merupakan dua kutub yang padu sekaligus merupakan “satu kesatuan”. Dengan keduanya, tergelarlah alam semesta dan Allah Ta’ala tampil sebagai Rabbul’alamin, Tuhan bagi seluruh jagat raya.

Dan di antara dua dimensi keilahian itu ada sebuah posisi agung yang selain berfungsi sebagai “pemisah”, juga merupakan penghung yang teguh dan kredibel di antara keduanya. Itulah posisi barzakh alias penengah yang diduduki oleh Nabi Muhammad Saw. Dan tentu saja beliau merupakan satu-satunya yang termulia di antara seluruh makhlukNya.

Posisi barzakh itu merupakan kedudukan rohani paling bergengsi yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain nabi yang merupakan rahmat bagi segenap alam raya itu. Karena itu dapat dipastikan bahwa beliau merupakan naskah atau salinan langsung dari hadiratNya. Seluruh anasir alam raya “menyimpan alamat” Allah Ta’ala. Akan tetapi, sungguh, alamat hadiratNya yang paling sempurna dan paling gamblang itu berada pada diri uswah hasanah, ketauladanan paling luhur, Nabi Muhammad Saw.

Ada korelasi antara Allah Ta’ala dengan seluruh komponen alam semesta. Tidak ada satu pun yang terlepas dari jangkauan dan cengkraman kemahaanNya. Dan korelasi yang terkuat itu terjalin dengan Sayyid al-Anbiya wa al-Mursalin Saw. Karena itu, garansi berikut ini jangan pernah terlalaikan oleh diri kita: siapa pun yang telah memiliki hubungan spesial secara spiritual dengan beliau, dapat dipastikan bahwa dia akan mendapatkan kedudukan rohani yang sempurna di hadapan hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.


Keterangan gambar: Undangan Pengajian dan Musik, Anggur Maulana Rumi (Group Musik PP Maulana Rumi) Terbuka Untuk Umum.

However, why not try this out it is able to function as a stand-alone rss reader.

Kajian Burdah #42, di Cafe Basa Basi

منزه عن شريك في محاسنه
فجوهر الحسن فيه غير منقسم
Kanjeng Rasulullah Saw merdeka dari adanya sekutu di dalam keindahan-keindahannya. Pada diri beliau, permata keindahan itu sama sekali tidak terbagikan dengan siapa pun.
Seluruh keindahan dunia ini sepenuhnya berasal-usul dari keindahan beliau, bukan dari apa atau siapa pun yang lain. Beliau adalah satu-satunya makhluk yang mendapatkan keindahan paling utuh, paling lengkap dan paling maksimal takarannya dibandingkan makhluk yang lain. Dan hal itu didapat langsung oleh beliau dari Yang Mahaindah.
Dari gumpalan keindahan yang sedemikian sempurna pada diri beliau, muncullah kemudian seluruh aneka ragam keindahan yang bertebaran di seluruh alam raya. Mulai dari keindahan dengan takaran paling rendah hingga yang paling tinggi. Baik keindahan fisikal maupun keindahan spiritual.
Keindahan pantai, keindahan gunung, keindahan senja, keindahan matahari terbit, keindahan purnama raya, keindahan malam, keindahan pegunungan, keindahan segala aneka ragam musik dan lain sebagainya: semua itu hanyalah merupakan percikan kecil dari keindahan beliau. Demikian juga seluruh keindahan rohani dengan berbagai tingkatan dan takarannya, baik yang pernah dialami oleh umat manusia maupun yang terus ditekuni para malaikat hingga kapan pun.
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa beliau tidak lain merupakan induk dari segala kebaikan dan keterpujian. Sebab, keindahan-keindahan itu tak lain merupakan realisasi dari kebaikan dan keterpujian.


*Oleh: Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

Leaf influential hyperlink rss reader one college homework service thing that makes leaf rss reader stand-out is the fantastic design.

MENELUSURI WUJUD

Oleh Kuswaidi Syafiie

Kesempurnaan spiritualitas bisa mengantarkan seseorang pada kesanggupan untuk menyaksikan rangkaian wujud dari awal mula penciptaan hingga titik akhir perjalanan kehidupan. Hal itu dimungkinkan karena pada spiritualitas yang sempurna itu terdapat mata nyalang yang tajam dan jernih hingga jarak jalinan kausalitas yang sedemikian panjang bisa ditekuk dan digenggam sebagai sebuah titik kesatuan.

Seorang penjaga gawang rohani Thariqah Syadziliyah, Syaikh Abu al-Hasan asy-Syadzili, di puncak gunung spiritualitasnya dengan tegas pernah menyatakan: “Andaikan tidak dilarang oleh syari’at, saya bisa menyebutkan seluruh rangkaian kejadian dari awal mula alam diciptakan hingga para calon penghuni surga masuk surga dan para calon penghuni neraka masuk neraka.”

Artinya adalah bahwa penglihatan seseorang yang rohaninya sempurna itu sungguh begitu jauh menembus ke kekelaman hutan milyaran tahun di masa silam sekaligus menerobos jauh ke alam keabadian di rerimbunan akhirat yang masih sayup dan kelam. Dan kalau seorang Abu al-Hasan asy-Syadzili yang secara spiritual merupakan derivasi dari rohani Nabi Muhammad Saw memiliki penglihatan sedemikian tajam seperti itu, apalagi Sang Nabi itu sendiri: pasti penglihatan beliau jauh lebih tajam dan lebih jernih.

Penglihatan yang tajam seperti itu terdapat di dalam hakikat kemanusiaan. Tidak ada pada diri binatang. Pun, tidak ada pada diri malaikat. Juga tidak ada pada makhluk-makhluk apa pun yang lain. Akan tetapi satu hal menjadi pasti bahwa pandangan yang tajam itu tidak secara otomatis bisa dialami oleh semua orang. Hanya orang-orang yang berjerih payah di jalan rohani dan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala yang akan memiliki kesanggupan seperti itu. Karena hal seperti itu mutlak merupakan kuasa hadiratNya.

Di penglihatan rohani yang tajam itu, setidaknya ada tiga hal yang bisa ditangkap secara serentak. Pertama, awal dan akhir yang kesannya terdiri dari dua kutub yang berseberangan itu ternyata satu jua adanya. Di sini, dualisme itu hanyalah bayang-bayang yang tidak lebih dari sebuah “tipuan.” Di antara keduanya seolah terbentang suatu demarkasi yang tidak kepalang tanggung luasnya, tapi ternyata apa yang disebut sebagai jarak itu sesungguhnya tidak ada dan tidak akan pernah ada secara hakiki.

Kedua, rangkaian sebab-akibat dalam proses perjalanan kehidupan itu sebenarnya tidak lain adalah “permainan” Tuhan. Sengaja saya letakkan idiom permainan itu di antara dua tanda kutip. Alasannya jelas bahwa Tuhan tidak pernah main-main dengan segala ketentuanNya. Apa pun yang ditentukan oleh hadiratNya murni merupakan kebenaran yang penuh dengan pelajaran rohani dan hikmah. Tapi itu juga saya sebut sebagai permainan karena Tuhan sendiri tidak wajib patuh terhadap serangkaian aturan yang merupakan hukum alamNya itu. Kerapkali Dia sendiri melakukan intervensi terhadap hukum kausalitasNya. Seperti terjadinya mukjizat pada para nabi, karomah pada para wali, ma’unah pada orang kebanyakan, dan lain sebagainya.

Ketiga, cahaya Nabi Muhammad Saw merupakan awal mula wujud alam semesta. Ia menjadi selubung sekaligus “substansi” dari segala sesuatu yang lain. Kalau dengan pandangan mata batin yang jernih dan tajam kita melihat apa pun yang kita jumpai, kita akan menemukan stempel cahaya kenabian itu lekat pada seluruh yang ada. Sebagaimana kita juga akan menemukan stempel ketuhanan di situ. Inilah bukti dari adanya ma’rifah ar-Rasul. Inilah pula bukti dari adanya ma’rifah Allah.

Cahaya Nabi Muhammad Saw yang merupakan awwal al-wujud itu juga disebut sebagai akal pertama yang telah “berjasa” melahirkan seluruh makhluk yang lain, termasuk adanya dunia dan akhirat. Dan tujuan penciptaan semua yang ada itu, selain merupakan rangkaian sebab-akibat bagi kelahiran dan pertumbuhan Nabi Muhammad Saw, juga merupakan pembuktian bagi kesanggupan beliau menampung segala sesuatu. Beliau, dengan demikian, adalah keluasan yang tak terkira-kira. Beliau adalah gumpalan wujud yang paling berbobot dan paling bermutu. Beliau tak lain merupakan “duplikasi” hadiratNya yang paling terang dan paling menawan. Wallahu a’lamu bish-shawab.


*Kuswidi Syafiie, Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
It lacks some of the basic tools to place the news and updates in context and the interface largely depends on its theodysseyonline.com/5-resources-for-college-students wide screen format.

PUISI DAN MUSIK

Oleh: Kuswaidi Syafiie

PUISI DAN MUSIK adalah bagian dari karya seni yang memiliki impresi tersendiri di dalam kehidupan. Yang lebih luas jangkauannya tentu saja adalah musik, baru kemudian puisi.

Di dalam keduanya, berbagai golongan bisa dengan mudah dikonvergensikan dengan titik sentuhnya masing-masing. Keduanya juga bisa menarik siapa pun kepada kelezatan yang eksotis, kepada hamparan perenungan, bahkan kepada Tuhan.

Tentang keduanya itu, saya sering merenung: apa sesungguhnya rahasia Tuhan yang berada di balik penciptaan kedua “makhluk” itu? Dengan menggunakan kedua makhluk itu sebagai sayap, saya seringkali menerobos batas-batas kefanaan. Sehingga akhirnya saya dibuat bingung tidak karuan oleh padang luas tak terbatas kemahaanNya.


*Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
However, there is a slight issue with this rss https://rousernews.com/streaming-sites-for-college-students/ reader.

Kajian Burdah41; Basabasi Sorowajan Yogyakarta

فهو اللذي تم معناه وصورته
ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسم
Kanjeng Rasulullah Saw adalah seorang manusia yang, baik secara makna batiniah maupun rupanya, telah sempurna. Lalu Tuhan semesta alam memilih beliau sebagai kekasih.
Dihikayatkan bahwa pada malam beliau mengalami mikraj, Allah Ta’ala berfirman kepadanya: “Wahai Muhammad, sesungguhnya raja-raja apabila telah jatuh hati kepada seorang budak dengan memberikan kekuasaan dan menjadikannya seorang raja pula, mereka segera mengumumkan kemuliaannya. Maka, apa yang kau inginkan dariKu untukmu?”
Sang Nabi terpilih itu menjawab: “Tolong sandarkan diriku kepadaMu, ya Tuhanku, dengan perantaraan penghambaan.” Lalu, diturunkanlah kepada beliau ayat pertama surat al-Isra’ itu: “Mahasuci Dia yang telah menjalankan hambaNya…”
Allah Ta’ala berfirman: ” Itu yang kau mohonkan. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dari hal itu. Yaitu, kebersandaranmu kepadaKu melalui cinta. Engkau adalah kekasih Allah.” Dan kita tahu bahwa pangkat sebagai Habibullah itu merupakan derajat rohani paling tinggi dibandingkan dengan pangkat rohani apa pun yang lain.
Pada bait di atas itu, dimensi rohani didahulukan ketimbang dimensi jasmani. Saya kira karena alasannya pasti bahwa titik pusat kemuliaan dan kebahagiaan hakiki bagi manusia tak lain adalah tergarapnya batin dengan sempurna secara spiritual. Bukan sebaliknya.
————
Oleh: Kiai Kuswaidi Syafiie, Pengasuh PP Maulana Rumi, Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

Baju dan Sarung

Oleh : Kuswaidi Syafiie

Baju dan sarung yang kupakai ini adalah pemberian Gus Kelik alias KH. Muhammad Rifqi Ali yang kemarin sore diantarkan oleh Saudara Hafizh. Gus Kelik adalah putra dari KH. Ali Maksum Krapyak. Gus Kelik masyhur sebagai orang yang khariq al-‘adah (melampaui kebiasaan orang-orang lain), sebagai wali yang memiliki banyak karamah.

Saya termasuk orang yang beruntung karena pernah menyaksikan dan mengalami langsung karamah Gus Kelik. Banyak sebenarnya. Tapi saya hanya akan menuturkan satu saja. Yaitu, pada sekitar tahun 2006 silam. Beliau bicara dengan setengah berbisik di dekat telinga saya: “Pak Kus, kulo ditumbasi piring rong gros, nggih? Atau bahasa Indonesianya: Pak Kus, saya dibelikan piring dua gros, ya?”
Saya yang sudah sangat percaya kepada kewalian beliau langsung saja merespon dengan “Beres sip” walaupun belum tahu uang yang harus saya keluarkan untuk dua gros piring itu berapa. Saya juga tidak tahu waktu itu dua gros itu jumlahnya berapa. Baru tahu kemudian ketika berada di swalayan Progo untuk membeli piring-piring itu dengan ditemani Pak Danar AS Aryo bahwa dua gros itu sama dengan dua puluh empat lusin.

Waduh, terkejut saya. Terus harganya? Ternyata dua juta lebih yang untuk ukuran kantong saya waktu itu nyaris mustahil. Untung Pak Aryo bawa uang cukup sehingga saya bisa ngutang dulu kepadanya. Sekitar dua atau tiga bulan berikutnya baru saya bisa melunasi hutang tersebut.

Piring-piring yang banyak itu diangkut dengan mobil Taruna milik Pak Aryo ke Krapyak, ke rumah Gus Kelik. Setelah saya serahkan, Gus Kelik kemudian bilang: “Pak Kus kalian garwo kulo dungakke sampe Mekkah-Madinah, nggih?” Saya mengaminkan dengan penuh harap. Beberapa waktu kemudian saya betul-betul sampai ke Mekkah dan Madinah. Berikutnya lagi ke Mekkah dan Madinah bersama istri dan rombongan. Bulan depan insyaallah berangkat lagi ke Mekkah dan Madinah. Sungguh karamah beliau itu nyata.

Keterangan foto: foto yang di sebelah saya adalah foto Gus Kelik bersama para santrinya. Beliau berkaos putih, sedang “menjenggot” salah satu santrinya.


*Kuswaidi Syafiie, Pengasuh Pondok Pesantren Tasawuf, PP Maulana Rumi Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
It is able to organize and display the news and information in a smart the one post way.

NASKAH AGUNG

Oleh Kuswaidi Syafiie

Karena Nabi Muhammad Saw merupakan orientasi terpenting dari kehendak Allah Ta’ala yang azali dalam konteks keterkaitannya dengan penciptaan, maka dapat dipastikan adanya dua hal berikut ini. Pertama, tidak ada yang lebih sempurna, lebih istimewa, dan lebih mulia di antara seluruh makhluk di hadapan hadiratNya dibandingkan dengan beliau.

Posisi itu yang kemudian menjadikan beliau sebagai اقرب الوسائل atau paling dekatnya perantara kepada Allah Ta’ala. Sehingga dapat digaransi bahwa siapa pun yang mendekat kepada beliau secara spiritual bisa dipastikan dia akan menjadi orang yang mendapatkan kedudukan yang mulia di hadapan hadiratNya. Itulah sebabnya umat Islam dengan tegas diperintahkan untuk mencontoh tauladan-tauladan beliau dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan.

Kedua, secara substansial, tidak ada siapa pun dari kalangan makhluk yang lebih “mirip” dengan Allah Ta’ala dibandingkan dengan Nabi Muhammad Saw. Kemiripan di sini tidak ada sangkut pautnya dengan rupa, bentuk dan warna. Karena dapat dipastikan bahwa Allah Ta’ala itu Mahasuci dari hal-ihwal tersebut. Tapi lebih menunjuk kepada akhlak dan perilaku beliau secara esensial. Itulah sebabnya kenapa pada suatu hari beliau pernah melontarkan sabdanya, “Berakhlaklah kalian sebagaimana Allah Ta’ala.” Itulah pula sebabnya kenapa Siti ‘Aisyah, istri beliau, pernah menyatakan bahwa akhlak Nabi Pungkasan Saw itu tidak lain adalah Qur’an. Artinya adalah bahwa tidak ada satu pun dari kalam hadiratNya itu yang tidak diamalkan dengan sepenuh hati oleh beliau.

Dari sini kemudian bisa ditarik sebuah konklusi bahwa kehadiran beliau di pentas sejarah kehidupan umat manusia secara hakiki merupakan salinan yang paling sempurna dan cemerlang dari kehadiran Allah Ta’ala itu sendiri. Beliau merupakan naskah agung paling otentik yang datang langsung dari hadiratNya. Sikap hidup dan sepak terjang beliau senantiasa dipandu oleh tangan kemahaanNya sehingga selalu terjaga dari keterperosokan dan perbuatan serong yang bisa menjadikan namanya tercemar.

Sebuah stempel transendental datang secara langsung dari suatu ayat di dalam Qur’an yang menjamin keterjagaan beliau dari kekalahan terhadap keburukan dan kekelaman nafsu, “Dan tidaklah beliau bertindak kerena hawa nafsu melainkan dibimbing wahyu yang diturunkan kepadanya,” (QS. An-Najm: 3).

Dan karena Nabi Muhammad Saw merupakan yang paling inti dari seluruh rangkaian penciptaan, merupakan naskah paling agung, merupakan realitas yang paling utuh dari segala wujud, merupakan ringkasan paling mulia dan paling sempurna dari seluruh yang ada, sangatlah pantas kalau beliau mendapatkan pertolongan yang terbesar dari Allah Ta’ala. Sebab, lewat perantara beliaulah rahmatNya itu mengalir dan memenuhi segenap alam semesta.

Ibarah sebuah wadah, beliau adalah wadah karunia yang paling luas, paling besar dan paling tangguh. Sehingga beliau sangat memenuhi syarat untuk menerima sebanyak mungkin keberuntungan dan karunia dari hadiratNya. Sampai-sampai ada ungkapan tentang beliau di kalangan para sufi bahwa para nabi itu diciptakan dari rahmat Allah Ta’ala, sementara junjungan umat Islam Nabi Muhammad Saw tak lain merupakan rahmat itu sendiri.

Dan rahmat terbesar dan paling bergengsi secara spiritual itu adalah karunia rohani. Seluruh karunia materi hanyalah secuil kalau dibandingkan dengan karunia rohani. Karena itu, tidak akan pernah ada siapa pun yang telah mencicipi dan mengunyah rahmat rohani akan menjadi tergila-gila dan memburu karunia materi semata. Tidak mungkin. Karena jarak perbandingan di antara keduanya itu sangat jauh, jauh sekali. Seperti jauhnya jarak nilai antara tumpukan kerikil dengan intan permata. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Artikel ini ditulis langsung oleh pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta